Cara Yang Benar Memelihara Anak Burung Walet Agar Berhasil

anak burung walet

Anakan Burung Walet

Untuk cara memelihara anakan burung walet dari mulai menetas hingga berhasil tumbuh menjadai burung walet dewas, harus dilakukan dengan berbagai tahap dan berikut tahapannya :

Penanganan Anak Walet Setelah Menetas
Setelah menetas, kondisi anak walet harus diperhatikan agar tingkat keberhasilan penetasan menjadi tinggi. Anak walet ini tidak harus langsung ditangani peternak, melainkan secara naluriah akan dipelihara induknya. Namun, perlu ada kontrol agar anak wallet dapat hidup dan tumbuh.

Bila ada anak walet yang jatuh dari sarang, peternak harus segera mengembalikannya ke sarang. Peternak pun harus selalu mengontrol keberadaan binatang pengganggu atau predator seperti tokek, tikus, atau kepinding. Di sekitar gedung burung walet harus selalu tersedia makanan berupa serangga terbang agar suplai makanan ke anak walet oleh induknya akan terus berlangsung.

Menyuapi piyik di sarang jelas mengganggu kegiatan indukanya. Bahkan induknya bisa meninggalkan sarangnya karena me-rasa terusik. Belum tentu makanan yang disuapi peternak akan menjamin kebutuhan gizi piyik walet. Padahal makanan yang diberikan induknya sendiri jelas lebih variatif dan lebih sehat dibanding disuapi manusia. Makanan yang disuapi induk walet pun mengandung antibodi sehingga menjamin kehidupan piyik.

Umur hingga tujuh hari sejak menetas, induk walet menjaga anaknya agar tetap hangat. Piyik disuapi secara bergantian oleh induk jantan dan betina hingga umur 7 hari secara bergantian. Hampir setiap jam induk walet menyuapi anaknya. Pada usia lebih dari tujuh hari, induk walet memberi makan anaknya pada pagi hari sekitar pukul 07.00—09.00, siang hari pukul 12.00—14.00, dan sore hari pukul 17:00—18.00.

Pertumbuhan dan kesehatan anak walet tergantung pada sedikit-banyaknya makanan yang diperoleh. Pada musim hujan jumlah makanan di alam sangat berlimpah sehingga sangat baik bagi perkembangan populasi walet. Namun, agar suplai makanan selalu tersedia, di sekitar gedung sebaiknya ditanami tanaman penghasil serangga seperti lamtoro, waru, akasia, dan mangga.

Sebagai burung liar, agresif, dan sensitif, walet membutuhkan situasi yang tenang, nyaman, dan aman. Untuk itu, harus dijaga jangan sampai mengganggu kehidupan walet. Buka-tutup pintu jangan sampai menimbulkan suara. Suara sekecil apa pun dapat berakibat walet kaget dan segera terbang meninggalkan sarang.

Mengukur Tingkat Keberhasilan
Parameter untuk mengukur tingkat keberhasilan penetasan telur dengan menggunakan induk walet adalah sebagai berikut.
1) Telur yang dierami sudah berhasil menetas dengan baik.
2) Piyik walet hidup sampai menjelang terbang.
3) Piyik walet dapat terbang dan tetap kembali ke gedung asal.
4) Delapan bulan kemudian, anakan walet tersebut sudah membuat sarangnya sendiri.

Umumnya menjelang umur 45 hari, anak walet tidak lagi tidur di dalam sarang induknya, melainkan menempel di bibir sarang burung walet. Beberapa hari kemudian, anakan walet atau walet muda ini akan belajar terbang mengikuti induknya. Secara naluriah walet muda ini akan terbang di belakang induknya mengikuti arah terbang induknya.

Otot sayap yang mulai kuat dan bulu sayap yang sudah tumbuh penuh membuat walet muda ini segera dapat ber-adaptasi untuk terbang di udara. Untuk pulang ke sarang pun tetap dituntun induknya.

Walaupun sudah bisa terbang, walet muda yang bam belajar terbang tetap masih disuapi induknya.Aktivitas terbang keluar-masuk sarang ini dilakukan terus-menerus oleh induk dan walet muda hingga walet muda benar-benar siap terbang mencari makanan sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *