Proses Budidaya Burung Walet Dengan Cara Superaktif

Budidaya Walet Dengan Cara Superaktif – Pada cara superaktif ini dilakukan penetasan telur walet atau seriti dengan menggunakan mesin penetas baik mesin tetas otomatis maupun manual. Piyik walet atau seriti yang baru menetas harus disuapi peternak. Penyuapan ini dilakukan hingga piyik dapat terbang. Selain dengan penetasan telur, pada cara budidaya walet dengan cara superaktif ini juga dapat dilakukan penyuapan terhadap piyik yang diambil dari sarang induknya semua cara ini bertujuan agar walet bersarang di gedung. Piyik yang diambil sudah ditumbuhi bulu.

Proses penyuapan

Menyuapi piyik atau anakan burung walet

Proses penyuapan segera dimulai setelah telur menetas dari mesin penetas baik mesin tetas otomatis maupun manual. Penyuapan pada piyik yang masih.sangat kecil dengan paruh kecil harus ekstra hati-hati, telaten, dan sabar. Makanan pokok yang disuapi berupa kroto (telur semut rang-rang).

hambatan-budidaya-kroto-harga-budidaya-kroto-hasil-budidaya-kroto-hukum-budidaya-kroto-ilmu-budidaya-kroto

Umumnya piyik yang dibesarkan dengan penyuapan kroto ini akan mati setelah berumur tiga minggu sejak penetasan. Hanya sebagian kecil orang saja yang sanggup memelihara piyik hingga bisa terbang. Ternyata rahasianya terletak pada kroto. Kroto yang disuapkan harus segar, yaitu baru diambil dari sarangnya.

Proses pelepasan
Setelah burung dapat terbang, tahapan selanjutnya adalah melepaskannya ke luar dari gedung. Pelepasan ini bertujuan agar burung dapat mencari makanan sendiri. Namun, sulit melepaskan burung yang dibesarkan dengan cara penyuapan. Penyebabnya ialah ada ketergantungan burung terhadap pemeliharanya.

Seorang pakar walet dari Malang, dr. Handoyo, menceritakan bahwa burung yang berhasil dibesarkan hingga dapat terbang sendiri ternyata tetap membutuhkan suplai makanan. Saat dilepas ke luar gedung, burung tersebut tidak dapat kembali ke gedung tempatnya dibesarkan.

Ada dua jawaban logis dari kasus tersebut. Pertama, cara makan burung sudah terpola (disuapi) sehingga saat dilepas bu¬rung tersebut tidak memiliki pengalaman menyantap makanan sambil terbang. Secara alami, burung saat terbang untuk pertama kalinya dari sarang induk akan mengikuti arah perginya induk.

Pada saat itu terjadi proses belajar tentang cara menyantap makanan dan mencari tempat yang banyak makanannya. Namun, burung hasil pemeliharaan tidak dibekali proses pembelajaran tersebut. Padahal bila 1-2 hari saja tidak makan maka dapat dipastikan burung tersebut akan lemah, tidak kuat terbang, jatuh, dan mati.

Kedua, bila ternyata dapat cepat belajar menyantap serangga dengan cara menyambar maka sangat kecil kemungkinannya burung tersebut kembali ke gedung tempat tinggalnya. Penyebab-nya karena burung tidak memiliki memori terhadap pintu gedung. la tidak memiliki pendamping seperti induk yang dapat menuntunnya kembali ke tempat tinggalnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *