7 Syarat Utama Membuat Rumah Walet Yang Benar dan Tepat

7 Syarat Utama Membuat Rumah Walet Yang Baik – Bila ditelusuri lebih jauh, inti kesalahan budi daya terletak pada kondisi rumah walet yang tidak memenuhi persyaratan. Oleh H.A. Fatich Marzuki (pakar perwaletan), persyaratan kondisi rumah walet tersebut diistilahkan sebagai “kaca susu”. Namun, oleh penulis dilengkapi menjadi “kaca susu sapi”, yaitu kelembapan, aroma, cahaya, suhu, suara, sirip, aman, dan pintu. Sangatlah percumah kita membeli bibit walet unggulan atau budidaya walet dengan cara superaktif sendiri tetapi kita tidak memperhatikan gedung atau rumah wallet berikut ini yang harus ada dalam rumah wallet adalah :

7 syarat membuat rumah walet yang baik

Kelembapan
Sesuai habitatnya, walet menyukai kondisi lembap di dalam gedung. Di berbagai seminar, penulis sering menyampaikan bahwa secara sederhana untuk membangun gedung walet sebaiknya meniru arsitektur rumah cina. Kondisi di dalam rumah tersebut dingin-lembap. Jangan heran bila rumah-rumah cina sering dipilih walet sebagai tempat berkembang biak. Kampung-kampung “pecinan” di Pati, Kudus, Semarang, Pekalongan, atau Tegal biasanya sudah lama dikenal sebagai sentra walet. Adapun kelem¬bapan ideal untuk walet adalah 85-90° C.

Aroma
Suatu gedung akan dihuni walet kalau beraroma khas walet. Aroma khas walet ini dapat ditimbulkan dengan cara menaburkan kotoran walet di dalam gedung. Dosis kotoran yang ditaburkan jangan terlalu banyak karena akan membuat bau menyengat. Ada dua macam kotoran walet, yaitu berwarna agak keputihan (kotoran baru) dan cokelat kehitaman (kotoran lama). Penulis cenderung menggunakan kotoran yang masih baru karena aromanya masih sangat khas. Sementara bau khas walet dari kotoran lama sudah hilang karena proses pembusukan.

Pada proses pembusukan kotoran walet, dihasilkan gas amoniak (NH3), gas asam belerang (H2SK dan gas karbondioksida (CO2) sehingga timbul bau busuk. Bila kotoran bercampur air, akan semakin banyak gas yang dihasilkan. Kondisi ini justru tidak disukai walet karena akan timbul bau sangat menyengat yang disebut miasma atau miasmata. Dalam bahasa Yunani, miasmata berarti polusi. Miasmata mengurangi kadar oksigen sehingga keberadaan gas NH3, H2S, dan CO2 sangat mengganggu kesehatan burung. Bila aroma kotoran hanya menjadi polusi maka burung akan enggan tinggal dalam gedung tersebut.

Cahaya
Pencahayaan pada pembudidayaan walet disebut-sebut sebesar 2° Ef. Namun, ahli lain menyebutkan bahwa kebutuhan cahaya gedung walet 0,5-2,0 foot candle (fc) atau setara dengan dua nyala lilin. Satu foot candle sama dengan 10,764 lux. Ukuran tersebut memang sangat sulit dipahami peternak pemula atau yang tidak memiliki alat pengukur cahaya (light-meter).

Bahkan pemilik gedung walet yang sudah bertahun-tahun kebanyakan tidak mengetahui besamya pencahayaan ideal di dalam gedung walet. Sehubungan dengan sifat walet yang cenderung bersarang di tempat gelap, muncul anggapan bahwa gedung walet ideal harus gelap. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi perlu diluruskan.

Walet akan memilih bersarang di tempat (sirip) yang tidak terkena cahaya langsung. Itulah sebabnya terkadang dijumpai walet bersarang di roving room. Padahal, pencahayaan di ruang tersebut tidak mencapai dua nyala lilin. Namun, sebenarnya pencahayaan untuk walet tidak terlalu penting. Faktor yang lebih penting adalah suhu dan kelembapan.

Suhu
Suhu ideal dalarrr gedung walet berkisar 28°-29° C. Untuk memenuhi suhu ideal tersebut, faktor geologi dan metrologi setempat sangat berpengaruh seperti dinding, atap, ventilasi, dan kolam pengendali kelembapan. Tidak meratanya suhu di setiap ruang pun akan berakibat banyaknya ruang kosong yang tidak digunakan burung untuk bersarang. Untuk menciptakan suhu ideal, di sekitar gedung dapat ditanami pepohonan ataupun di sekeliling bangunan dalam gedung dibuatkan kolam atau bak air.

Suara
Walet termasuk jenis burung koloni. Selain berkelompok saat mencari makan, walet pun akan berkelompok saat membangun sarang. Untuk itu, memancing walet masuk gedung sering meng-gunakan rekaman suara koloni walet, baik melalui tape recorder maupun CD (compaq disc).

Sirip, suri, atau lagur merupakan tempat walet meletakkan sarang. Sirip sangat berperanan dalam keberhasilan suatu gedung dihuni walet. Ada beberapa kondisi dari sirip yang disukai burung sebagai berikut.

  1. Bahan sirip harus berupa papan yang kering dan bersih.
  2. Papan sirip harus tidak berbau.
  3. Lebar sirip 15-20 cm dan tebal 3 cm.
  4. Jarak ideal antarsirip 30-40 cm.

Bidang lebar dari papan sirip jangan diserut (dihaluskan). Jenis kayu untuk sirip antara lain sengon, bengkirai, meranti, jati, keruwing, merbau, bungur, dan albasia. Ada juga sebagian orang yang menggunakan sirip dari beton cor. Bahkan, ada yang menggunakan sirip dari aluminium untuk gua walet.

Aman
Memilih tempat bersarang yang tersembunyi merupakan salah satu tanda bahwa walet membutuhkan keamanan, ketenangan, dan kenyamanan untuk berkembang biak. Oleh karena itu, rasa aman, tenang, dan nyaman perlu diciptakan dalam gedung. Se-mentara sumber gangguan, baik suara, getaran, atau binatang predator (tokek, tikus, kepinding, kelelawar, kecoak, dan semut) perlu disingkirkan.

Pintu
Kasus gedung kosong dapat disebabkan oleh pintu walaupun persyaratan suhu, kelembapan, cahaya, aroma, sirip, dan keamanan sudah terpenuhi.

Menentukan pintu masuk burung pada bangunan baru ter­kadang membingungkan, baik arah maupun ukuran pintu. Bila dibuat menghadap ke timur atau barat, sinar matahari dapat lang­sung masuk ke gedung. Sementara bila dibuat menghadap ke utara atau selatan, tidak ada ruang putar (roving area) bagi burung karena terdapat rumah penduduk.

Dari pengalaman penulis, pintu masuk sebaiknya berukuran 50 cm x 60 cm. Arah pintu disesuaikan dengan jalur terbang burung. Untuk menekan cahaya masuk karena pintu berukuran besar, dapat dibuatkan sekat di dalam gedung. Sekat tersebut menyebabkan adanya ruang yang terang di roving room, ruang remang-remang, dan ruang agak gelap.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *