Spastisitas adalah gejala yang menyertai paresis jenis “upper motor neurone”

Suatu kelumpuhan akibat lesi pada traktus kortikospinalis, seperti halnya dengan hemiparesis akibat infarksio serebri atau paraparesis akibat lesi transversal di medula spinalis. Rigiditas dijumpai pada penyakit Parkinson. distonia dan degenerasio hepatolentikularis. Tonus otot yang rendah sekali ialah geiala yang mengiringi kelumpuhan jenis “lower motor neurone” akibat lesi pada motoneuron berikut neuraksisnya, seperti halnya pada poliomielitis anterior, polineuritis, degenerasi serabut saraf perifir akibat intoksikasi berbagai racun, degenerasi radises yang dikenal sebagai “sindroma Guillain-Barre” dan degenerasi serabut2 saraf perifir akibat diabetes melitus dan karsinomatosis.

Setelah tonus otot diperiksa, maka selarrjutnya tenaga.otot dinilai. Deralat kekuatan tenaga itu ditentukan sebagai berikut. Apabila anggota gerak tidak dapat bergerak sama sekari, maka derajat kekuatan tenaga adalah o. Jika tampak pergerakan minimar, maka kekuatan berderajat r. Apabila suatu pergerakan dapat dilakukan namun tidak dapat dilaksanakan penuh, maka derajat kekuatan adalah 2. Kekuatan yang berderajat 3 ialah jika suatu pergerakan dapat dilaksanakan secara penuh namun tidak dapat mengatasi suatu penahanan dari si pemeriksa.

pergerakan yang dapat dilakukan secara penuh walaupun ada tenaga yang menahan pergerakan tersebut digolongkan sebagai derajat 4. Apabira tenaga yang menahan pergerakan adarah maksimal dan pergerakan masih dapat dilakukan secara sempurna, maka derajat kekuatan itu ialah S. Dari uraian mengenai derajat tenaga dapat diketahui bahwa menguji kekuatan otot adalah menilai pergerakan anggota gerak pasien dengan jalan menahan pergerakan tersebut.

MENGUJI OTOT2 BAHU

Pemeriksaan umum cukup lengkap, apabila kekuatan otot2 bahu tersebut di bawah ini diuji: (a) m. trapezius (N.Xl,C.3 C.4), (b) m. rornboideus mayor/minor (C.4 C.5), (c) m. seratus anterior (C.5 C.6) dan (d) m. deltoideus (c.5 c.6). cara menilai kekuatan otot2 itu adalah sebagai berikut: M. Trapezius: Pasien diminta mengangkat bahunya sedangkan tenaga yang menahan pergerakan itu ditempatkan di atas bahu. M. Romboideus mayor/minor: Pasien disuruh menempatkan tangannya di pinggangnya, kemudian ia di minta menggerakkan sikunya ke belakang, si pemeriksa menahan pergerakan ini dengan menernpatkan tenaganya pada bagian siku yang menghadap ke belakang. Baca informasi lengkap seputar obat kencing manis alami yang sangat ampuh dan efektif hanya di sini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *